30 Desember 2009

GURU PEMBELAJAR;

Profil Forum Komunikasi Guru-Guru Agama

Saat ini kesulitan pilihan hidup menjadi pendidik lebih berat dari masa sebelumnya. Di luar tantangan masalah ekonomi dan gaya hidup materialistis, hanya seorang guru yang mempertahankan idealisme memfasilitasi anak didiknya menumbuhkembangkan jati diri yang berkarakter yang bisa mempertahankan kehormatan sebaga pendidik. Artinya idealnya seorang guru harus memberikan dirinya secara total bagi dunia pendidikan, sebuah keadaan yang berat di tengah semua persoalan hidup yang harus dihadapi seorang guru. Maka perlu ada strategi untuk menyiasati beban-beban struktural-administratif kependidikan agar tidak menjerat guru ke dalam perangkap yang melelahkan sehingga mereka melepaskan idealisme dan semangat yang dibutuhkan. Strategi ini antara lain adalah menciptakan kondisi yang memacu untuk terus-menerus belajar.

Dalam rangka menciptakan kondisi yang memacu terus-menerus belajar inilah alumni pelatihan bagi Guru-Guru agama tentang Pluralisme dan Multikulturalisme yang diselenggarakan Institut DIAN/Interfidei tahun 2004 dan 2005 mengorganisir diri dalam suatu Forum belajar bersama dengan nama Forum Komunikasi Guru-Guru Agama. Forum ini menyelenggarakan pertemuan bulanan untuk membahas tema-tema yang ditentukan oleh partisipan yang hadir dalam pertemuan, dengan narasumber diutamakan dari peserta forum. Bila ada tema-tema yang membutuhkan narasumber yang lebih kompeten, baru mengundang narasumber yang bersedia secara volunteer membantu para guru.

Keyakinan bahwa wadah belajar bersama ini penting tampak dari dukungan berbagai kalangan berupa kesediaan untuk menjadi tuan rumah pertemuan lengkap dengan sajian snack dan adakalanya dengan berbagai peralatan elektronik pendukung belajar. Namun demikian keyakinan tidak dengan sendirinya melahirkan tekad, ketelatenan dan kesabaran guru untuk belajar. Mentalitas pembelajar masih harus diperjuangkan oleh siapa saja yang peduli dengan perkembangan kulaitas pendidikan.

Gempa di Jogja pada Mei 2006 membuat kegiatan Forum ini terhenti hingga setengah tahun. Namun kemudian menyadarkan beberapa aktifisnya untuk membuat platform yang menjadi karakter Forum, yang bisa diingat bersama, dikomunikasikan dan diperkenalkan pada masyarakat pada masyarakat, yang sebenarnya pernah digagas pada bulan April, satu bulan sebelum gempa. Platform sederhana yang terbuka untuk direvisi ini adalah sebagai berikut

Nama Forum
Nama Forum adalah Forum Komunikasi Guru-Guru agama se Daerah Istimewa Jogjakarta

Visi & Misi

Visi : “Bersama membangun karakter bangsa dengan moralitas agama yang berwawasan multikultural

Misi :
  • Membangun suasana saling pengertian, pemahaman dan menerima perbedaan dengan rendah hati melalui dialog antar partisipan Forum, agar dapat ditransformasikan dalam pembelajaran di sekolah maupun pembelajaran dalam masyarakat.
  • Saling berbagi kemampuan dan membangun jaringan dalam masyarakat, untuk meningkatkan kesanggupan masyarakat luas untuk hidup bersama dan bekerjasama mengatasi berbagai persoalan kehidupan

Keanggotaan
Keanggotaan Forum bersifat terbuka, atas dasar suka rela namun terikat dalam memberikan komitmen bagi upaya perbaikan pendidikan, khususnya pendidikan keagamaan di Indonesia.

Pengorganisasian
Peserta forum adalah guru-guru agama, mahasiswa jurusan pendidikan agama, dosen, peneliti aktifis LSM, aktifis organisasi mahasiswa dan pemerhati masalah pendidikan agama.
Pengorganisasian Forum bersifat non formal, sekretariat sementara berada di kantor Interfidei Banteng Utama 59 Jl. Kaliurang Km.8 Yogyakarta.

Perkembangan yang dicapai pada tahun 2007 adalah penerbitan newsletter Guru Merdeka yang terbit pertama bulan November yang disusul dengan peluncuran blog dengan nama sama. Newsletter dan situs ini dibuat sebagai ajang belajar menulis bagi para partisipan Forum, disamping sebagai media penyebarluasan gagasan bagi para peminat yang tidak bisa hadir dalam pertemuan.

Minat belajar dan ketekunan para guru adalah ruh yang paling menggerakan dan menghidupkan Forum belajar bersama para guru lintas agama ini. Semoga makin berkembang. (LT)